Denda Rp 100 Juta Bagi yang Menghalangi Pemberian ASI

Jakarta, Pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi yang baru lahir hingga minimal berumur 6 bulan semakin dilegalkan secara hukum. Pihak-pihak yang menghalangi ibu untuk memberikan ASI akan dikenai denda Rp 100 juta atau penjara 1 tahun.

Pelaksanaan ketentuan tersebut sebenarnya sudah tercantum dalam UU Kesehatan No 36/2009, Pasal 128 ayat (1) yang isinya ‘Setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif sejak dilahirkan selama 6 bulan kecuali atas indikasi medis’.

Sedangkan pada Pasal 128 ayat (2) berbunyi ‘Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif dipidana penjara paling lama satu tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta’.

Namun aturan hukum tersebut baru bisa dijalankan jika sudah ada peraturan pemerintah (PP). Nah, saat ini kementerian kesehatan sedang menggodok RPP (Rancangan Peraturan Pemerintah) Pemberian ASI dengan melibatkan koalisi peduli ASI.

RPP ini sedang digodok dan diharapkan bisa terbit pada Oktober 2010 atau 1 tahun sejak UU Kesehatan disahkan yakni Oktober 2009.

“RPP ini masih terus digodok kemenkes yang mengajak koalisi peduli ASI termasuk AIMI untuk diskusinya,” kata Ketua Umum AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Mia Sutanto ketika dihubungi detikHealth, Kamis (12/8/2010).

Mia optmistis RPP ini bisa melindungi dan memacu ibu untuk menyusui bayi yang baru lahir, karena ASI adalah satu-satunya makanan yang diperlukan bayi hingga minimal usia 6 bulan atau maksimal 2 tahun.

“Jadi UU itu bukan menghukum ibu si bayi, tapi pihak-pihak yang menghalangi pemberian ASI untuk bayi. Ini perlu diluruskan karena anggapan yang muncul ibu yang tidak menyusui yang dipenjara, itu salah tapi pihak yang menghalangi pemberian ASI yang dihukum,” jelas Mia.

Siapa pihak yang menghalangi pemberian ASI ini?

Mia menjelaskan pihak-pihak yang menghalangi pemberian ASI itu seperti dalam kasus saat ini contohnya:

1. Rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan fasilitas agar ibu melahirkan bisa langsung menyusui bayinya.

“Rumah sakit tidak menyediakan rawat gabung ibu dan bayi atau tidak melakukan inisiasi menyusui dini (IMD),” katanya

2. Tenaga kesehatan yang dengan sengaja memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir.

3. Dokter yang menyarankan pemberian ASI kepada ibu yang baru melahirkan.

Motivasi perlunya perlindungan pada ibu yang baru melahirkan untuk memberikan ASI eksklusif, karena saat ini banyak kasus yang membuat ibu sehat tersudut dengan tidak memberikan ASI.

“Kecuali ibu-ibu yang secara medis memang tidak bisa memberikan ASI,” katanya.

Mia berharap pembahasan RPP ini tidak diganggu pihak-pihak ketiga seperti kepentingan produsen susu formula.

Bagaimana dengan pemberian ASI oleh perempuan yang bekerja?

Mia menjelaskan untuk perempuan pekerja saat ini sudah ada SKB 3 menteri yakni Menkes, Menneg PP dan Menaker yang mendukung penyediaan fasilitas pemberian ASI atau memberikan waktu pada ibu untuk memompa ASI di tempat kerja.

Pihak korporasi yang sengaja tidak memberikan fasilitas ibu menyusui dalam Pasal 200 terkena pidana denda Rp 300 juta. Dalam Pasal 201 ayat (2) disebutkan pula bahwa selain pidana denda, korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha dan atau pencabutan status badan hukum.

(ir/up)

http://www.detikhealth.com/read/2010/08/12/094133/1418733/764/denda-rp-100-juta-bagi-yang-menghalangi-pemberian-asi

Susu Formula Kurang Cocok untuk Bayi Sehat

London, Susu formula sebenarnya diperuntukkan bagi bayi prematur atau kurang berat, tapi untuk bayi sehat sebaiknya jangan buru-buru memberikan susu formula hingga batas pemberian ASI eksklusif. Kenapa susu formula tidak cocok untuk bayi sehat?

Dari penelitian yang dilakukan ilmuwan Inggris ditemukan bila bayi sehat mengonsumsi susu formula maka bisa menyebabkan obesitas yang memicu penyakit jantung dan diabetes nantinya.

Hasil penelitian menyebutkan susu formula yang diperkaya dengan protein, vitamin dan nutrisi lain bila diberikan pada bayi normal maka bisa menyebabkan obesitas (kegemukan) saat anak berusia 5 tahun.

Penelitian itu menemukan bahwa bayi sehat yang diberi susu formula akan mengalami kenaikan berat badan 22 hingga 38 persen lebih cepat ketimbang bayi yang diberi ASI. Ini disebabkan karena bayi menerima terlalu banyak kalori di awal masa pertumbuhannya.

Nah, kondisi inilah yang bisa memicu obesitas pada anak dan meningkatkan berbagai risiko kesehatan terutama penyakit jantung dan diabetes.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 20 persen dari obesitas pada orang dewasa dapat disebabkan oleh kelebihan gizi atau berat badan berlebihan pada awal masa pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Susu formula yang telah mengalami pengayaan lebih disarankan bagi bayi yang lahir kurang berat atau prematur dan bukan untuk bayi sehat yang lahir dengan berat badan normal.

“Penelitian ini sebenarnya ingin menyoroti tentang kasus sedikitnya ibu yang mau menyusui ASI kepada bayinya dan justru memberikan susu formula,” jelas pemimpin studi Profesor Atul Singhal dari MRC Childhood Nutrition Research Centre di University College, London, seperti dilansir dari Dailymail, Senin (4/10/2010).

Prof Singhal mengatakan bahwa banyak ibu-ibu yang melahirkan bayi sehat enggan memberikan ASI kepada bayinya dengan berbagai alasan.

Padahal berbagai penelitian menunjukkan bayi yang mengonsumsi ASI dapat mengatur asupan kalori sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Kemampuan ini yang diperkirakan menjadi alasan bayi yang mengonsumsi ASI cenderung kurang memiliki masalah obesitas di kemudian hari.

Dalam hasil penelitian yang telah dipublikasikan pada American Journal of Clinical Nutrition ini, peneliti melakukan studi pada bayi yang baru lahir di berbagai rumah sakit di Cambridge, Nottingham, Leicester dan Glasgow.

Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi yang ideal untuk bayi yang baru lahir. ASI mengandung komponen laktosa, protein dan lemak yang mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi yang baru lahir. ASI juga mengandung semua komponen alami vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh bayi.

Ada banyak keuntungan yang bisa diambil jika ibu memberikan ASI pada bayinya, diantaranya adalah dapat meningkatkan ikatan batin antara ibu dan bayinya. Selain itu ASI juga bisa melindungi bayi dari alergi, asma, diabetes, obesitas dan sudden infant death syndrome (SIDS).

Keuntungan lainnya adalah bayi yang mengkonsumsi ASI selama 6 bulan pertama memiliki tingkat IQ 5-10 kali lebih tinggi dibanding bayi yang tidak mengkonsumsi ASI.

Kontak kulit antara ibu dan bayi bisa meningkatkan emosional antara keduanya dan ASI juga memberikan keuntungan untuk sang ibu, karena bisa membakar kalori ibu dan menurunkan risiko kanker payudara setelah menopaouse nanti.

Sumber: Merry Wahyuningsih – detikHealth

http://www.detikhealth.com/read/2010/10/04/094219/1454581/764/susu-formula-kurang-cocok-untuk-bayi-sehat?l991101755

Paul Zane Pilzer

Paul Zane Pilzer, Ekonom dan Advisor dari 2 presiden Amerika, dalam bukunya “THE NEXT TRILLION” menyebutkan, “Tahun 2010 akan tampil 1 produk yang akan mengalahkan penjualan produk asuransi, mobil dan property. Produk itu bersifat untuk kesehatan dan bisa mengubah penampilan serta dapat memperpanjang usia dan bikin awet muda”. Inilah yang disebut dengan Wellness Revolution.

Kenapa 2010? Try Googling with this keyword: “Go Organic 2010″. Jika anda cukup teliti, maka anda akan menemukan bahwa yang dimaksud oleh Pilzer adalah produk kesehatan. Melilea adalah produk kesehatan yang berbasis pada hasil pertanian organic. Selain menyehatkan, mempunyai sifat slow down the aging, produk organic dijamin aman dan mampu berfungsi sebagai detoksifikasi aneka racun penyebab penyakit degeneratif/kronis yang belakangan ini kerap muncul di usia yang masih sangat muda karena gaya hidup dan pola makan yang salah.

United Nations (PBB) sejak tahun 1999 telah mengkampanyekan Go Organic 2010 dalam rangka mengembalikan unsur kesehatan tanah, sehingga mendorong terciptanya sumber pangan yang bebas pencemaran dan meningkatkan tingkat kesehatan manusia serta mengurangi efek rumah kaca penyebab global warming.

Untuk itu, direncanakan tahun 2010 Kantor Pusat Melilea di Malaysia akan segera dipindah ke New York, dan dari sana lah Melilea akan mengarahkan Trend Gaya Hidup Organic ke seluruh dunia!

Why Wait? Be part of it now, and be Melilean!

Detox and Live

Herbalist Hilde Hemmes’ latest book is about detoxifying the body and is aptly titled Detox and Live. “We are the generation that is exposed to more chemical and toxic pollution than any in history,” said Hilde. “We are also the same generation that ingests a daily diet of processed foods, refined sugars, caffeine, additives, preservatives, steroids, penicillin, alcohol, nicotine, and a whole host of other toxins. This toxic cocktail serves no purpose in the human body and needs to be cleaned out. It is obvious that if you have fewer toxins to contend with, you will have more energy, more vitality, less weight and be in better health.”

Losing weight, cleansing your liver and a ‘quick detox’ are just some of the popular easy-to-follow programs in Detox and Live. Hilde Hemmes’ successful programs are based around simple juice therapy. “Organic juices are the cleansers of the human system. They purify the blood, get rid of accumulated toxins from the cells and help in the production of new cells. Organic juices will supply you with all of these positive effects and restore the acid-alkaline balance of your system, without the use of drugs or artificial vitamin supplements.”

Detox and Live explains why we need to detox, what effects various foods have on our bodies and the food additives one should avoid, together with comprehensive but simple programs devised to jump-start our way back to health and vitality.

Detox and Live is illustrated by artist Pro Hart, with a foreword by Professor Michael Tyler A.O., an eminent world authority on frogs and their sensitivity to man-made pollutants.